Berbagi tentang kota palembang

Berusaha berbagi apa yang kita tau,adalah hal yang menyenangkan,,,,,,,

Berbagi tentang kota palembang

Berusaha berbagi apa yang kita tau,adalah hal yang menyenangkan,,,,,,,

Berbagi tentang kota palembang

Berusaha berbagi apa yang kita tau,adalah hal yang menyenangkan,,,,,,,

Berbagi tentang kota palembang

Berusaha berbagi apa yang kita tau,adalah hal yang menyenangkan,,,,,,,

Berbagi tentang kota palembang

Berusaha berbagi apa yang kita tau,adalah hal yang menyenangkan,,,,,,,

Rabu, 06 Juni 2012

Masjid Al- Mahmuddiya


Terletak di Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat II wilayah Suro, oleh karena itu masjid tersebut dinamakan masyarakat disekitar lingkungan itu Masjid Suro yang sekarang sejak tahun 2001 atas kesepakatan pengurus berganti nama Masjid Al-Mahmudiyah.

Masjid ini dibangun dengan gotong royong karena tidak ada biaya. Konon menurut cerita setiap Ki. H. Abdurrahman Dalamat sholat tahajut dan berdoa meminta rizki dan pada kenyataannya selesai berdoa telah ada uang di bawah sajadah, uang tersebut dipergunakan oleh beliau untuk pembangunan masjid ini.

Masjid Al-Mahmuddiyah (Masjid Suro)

Masjid Merogan Dan Lawang Kidul

Masjid Merogan


Kedua Masjid ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan pada tahun 1310 H oleh Kyai Merogan (Mgs. H. Abdul Hamid Bin Mgs. Mahmud) dengan menggunakan biaya sendiri.

Sebagai seorang ulama yang memiliki pandangan kedepan beliau mendirikan Rumah Allah dengan membuat pernyataan tertulis disebut “Najar Mujal Lillahi Ta’ala” naskah tersebut tertanggal 6 Syawal 1310. Masjid Ki Merogan berada di tepian Sungai Ogan Kecamatan Kertapati sedangkan Masjid Lawang Kidul berada di tepi Sungai Musi daerah Seberang Ilir Kelurahan 5 Ilir.

Kedua bentuk masjid serupa sekalipun pendiri kedua masjid itu wafat tetapi sampai dengan saat ini tetap ramai dikunjungi orang karena makam beliau dilokasi Masjid Ki Merogan dianggap keramat dan ada beberapa kisah menarik pada saat beliau masih hidup.



A. Kisah Anak Yatim

Pada suatu hari kala itu beliau masih berada di Mekkah menuntut ilmu berkatalah bahwa dia akan kembali ke Indonesia untuk mengurus anak yatim. Anak Yatim yang dimaksud adalah Masjid Merogan dan Masjid Lawang Kidul.



B. Kisah Tentang Ikan

Seorang pedagang ikan dari OKI membawa ikan untuk dijual di pasar ikan di Palembang. Mendekati kota Palembang, si pedagang tiba-tiba menyaksikan ikannya dalam keadaan mati dan dia akan mengalami kerugian yang cukup besar.

Tiba-tiba ia teringat kemasyuran Ki Merogan untuk meminta nasehat, setelah tiba belum sempat berkata Sang Kyai menegur, kisanak ikan-ikan yang berada di perahumu tidaklah mati, Insya Allah ikanmu hidup, jualah ke pasar dan hiduplah serta peliharalah keluargamu baik-baik. Benar saja tiba di perahu dilihatnya ikan yang dibawanya dalam keadaan hidup.

Cerita lain tentang ikan dari seorang penduduk yang ingin membuktikan kekramatan Ki Merogan dengan melepas seekor ikan besar sambil berucap “hai ikan pergilah engkau menemui Ki Merogan sebagai hadiah dariku” beberapa hari kemudian dia menemui Ki Merogan di masjid Merogan, sebelum sempat mengutarakan maksudnya Sang Kyai menyapa lebih dulu dan berkata bahwa kirimannya sudah diterima.



C. Zikir Merogan

Beliau mengajarkan zikir dengan cara unik yaitu bila beliau mengajar ke Masjid Lawang Kidul atau sebaiknya menggunakan perahu sambil berkayuh inilah Kyai mengajak murid-muridnya bersama-sama mengucapkan zikir berulang-ulang dan maklumlah penduduk sekitarnya bahwa Ki Merogan lewat.

Kisah Gajahnata ini bersumber dari seabad Masjid Lawang Kidul dan Masjid Merogan yang disusun oleh Dr. K. H. O. Gajahnata.

Masjid Lawang Kidul

Masjid Agung Palembang





a. Masjid Agung Masa Lalu

Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (Sultan Mahmud Badaruddin Joyo Wikromo) yang dimulai 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738) dan diresmikan pada 28 Jumadil Awal 1161 H (26 Mei 1748). Masjid ini dulunya dikenal dengan nama Masjid Sultan yang lokasi dibangunnya terletak di “pulau” yang dikelilingi Sungai, sebelah Selatan Sungai Musi, sebelah Barat Sungai Sekanak, sebelah Timur Sungai Tengkuruk, dan sebelah Utara Sungai Kapuran.

Puncak Masjid Agung berbentuk atap mustaka / kepala. Bentuk mustaka yang terjurai ini melengkung ke atas keempat ujungnya menyerupai bentuk atap pada bangunan Cina.

Menara pertama dibangun bagian kiri masjid arah Selatan (jalan Merdeka) pada tahun 1753 dengan ukuran tinggi 30M dan garis tengah 3M.

Pada tahun 1897 di bawah pimpinan pangeran Penghulu Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin diadakan perluasan Masjid Agung, tahun 1930 pengembangan masjid ini dipimpin oleh Hofa Penghulu Ki Agung Haji Nang Toyib bersama teman-teman.

Pada tanggal 2 Januari 1970 dibangun menara kedua dengan ukuran tinggi 45M berbentuk persegi 12 dibiayai oleh Pertamina dan diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971.



b. Masjid Agung Masa Kini

Bangunan utama Masjid Agung yang dibangun oleh Mahmud Badaruddin I masih tetap berdiri sebagaimana asalnya. Sejak tahun 2000 masjid ini direnovasi dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden RI. Hj. Megawati Soekarno Putri.

Pada saat ini kita sudah dapat melihat kemegahan Masjid Agung yang seluruhnya dibatasi jalan. Di halaman masjid dapat kita lihat taman yang diantaranya ditanami beberapa buah pohon kurma.

TARIAN DAERAH

TARI GENDING SRIWIJAYA

Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti Kepala Negara, Duta Besar dan tamu-tamu agung lainnya. Tari Gending Sriwijaya hampir sama dengan tari Tanggai, perbedaannya terletak pada penggunaan tari, jumlah penari dan perlengkapan busana yang dipakai.

Penari Gending Sriwijaya seluruhnya 13 orang terdiri dari:

1.  Satu orang penari utama pembawa tepak (tepak kapur sirih)

2.  Dua orang penari pembawa paridon (perlengkapan tepak)

3.  Enam orang penari pendamping (tiga dikanan dan tiga dikiri)

4.  Satu orang pembawa payung kebesaran

5.  Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya

6.  Dua orang pembawa Tombak

TARI TANGGAI

Tari Tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu resmi atau dalam
acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kain songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urai atau rampai, tajuk cempako,
kembang goyang dan tanggai ini berbentuk kuku dan terbuat dari lempengan tembaga.

TARI RODAT CEMPAKO

Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan Islam. Gerak dasar tari ini diambil dari negara asalnya Timur Tengah, seperti halnya dengan Dana Japin dan Tari Rodat Cempako sangat dinamis dan lincah.





KERAJINAN PALEMBANG

1.    SEWET SONGKET

Sewet Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemben atau selendang.

Bahan Sewet Songket ini ditenun secara teliti dengan menggunakan benang. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain.

Oleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan yang halus dan seni yang tinggi, maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.

Pakaian Songket lengkap dan dikenakan oleh penganten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran), Aesan Penganggon (paksangko), Aesan Selendang mantri, Aesan Gandek (gandik) dan sebagainya.

Macam-macam Kain Songket

1.     Songket benang mas Lepus dan warna warni

2.     Songket benang mas Lepus biasa

3.     Songket benang mas Lepus Jando Beraes

4.     Songket benang Jando Penganten

5.     Songket benang emas Bungo Inten

6.     Songket benang emas Tretes Midar atau Bidar

7.     Songket benang emas Pulir Biru

8.     Songket benang emas Kembang Siku Hijau

9.     Songket benang emas Bungo Cino

10. Songket benang emas Pacik

11. Songket benang emas Cukitan


2.    SEWET TAJUNG

Sewet Tajung adalah kain yang khusus dipakai untuk laki-laki. Kalau wanita ada kain Tajung khususnya pula yang disebut dengan kain Tajung Blongsong. Sedangkan kain Tajung khusus untuk pria adalah yang disebut dengan Gebeng dan ada lagi yang disebut dengan Tajung Rumpak atau Tajung Bumpak. Sewet Tajung ini dalam pembuatannya memakai benang emas walau tak penuh.

Macam-macam Sewet Tajung adalah:

1.  Limar

2.  Limar Patut

3.  Petak-petak berwarna

4.  Geribik

5.  Belongsong


3.    SEWET PELANGI dan JUMPUTAN

Kain Pelangi ini sangat beraneka ragam dan sangat indah. Bahannyapun dari benang kain sutra serta cat khusus yang tidak luntur. Pembuatannya tetap secara tradisional.

Sewet Pelangi permukaannya licin dan halus serta bisa dikepal dengan tangan sedangkan kain atau sewet jumputan itu bunga-bunganya tampak seperti dijemput-jemput dengan benang sewaktu perebusan sehingga selesainya menjadi indah dan bagus.


4.    SEWET PERADAN

Sewet peradan disebut juga Sewet Prada. Kain yang sudah jadi kemudian di Prada dengan cat emas yang khusus untuk mengecat kain. Biasanya kain yang di Prada adalah kain yang bagus baik bahan maupun motifnya.


5.    SEWET BATIK PALEMBANG

Selain kain-kain yang disebut diatas ada juga kain Batik. Batik Palembang mempunyai ciri khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang manggis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik Lasem.


6.    SENI UKIR

Dalam pola atau bentuk ukiran kayu, dua elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari penjelmaan sesuatu pola, khususnya dalam motif dan teknik penyusunan selain berfungsi sebagai nilai artistik dan ventilasi (lobang angin) juga mempunyai fungsi bermakna filosofi.

Seperti kita temui di bangunan-bangunan lama rumah Palembang dan bangunan lainnya banyak ditemui ukiran-ukiran kayu yang indah dan menarik sehingga menampakkan keanggunan dan keagungan budaya negeri dan masyarakat pembuatnya.


BAGUS KUNING

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTM3J738lzvyGhtJOXzNmy5kgteBDMnhgyVRyaDEDsRd8Ugd-oa1ryXTak0Ilz72F3oJ_vKXncVyOITXe7uF9C42HNEG4ZPhRIBdC-3Rvpa5GMPvWJJ8Cbe0nmijBuT6kPcqGPKQr1HM23/s1600/Monyet-monyet+yang+bebas+berkeliaran+di+lapangan+Golf+Bagus+Kuning.JPG)




Daerah ini terletak di Kecamatan Seberang Ulu II tepatnya di Kompleks Bagus Kuning Plaju yang merupakan Makam Ratu Bagus Kuning dan sampai saat ini masih dikeramatkan karena menurut legenda Ratu Bagus Kuning orang yang sakti dan sebagai penyambung risalah Rasulullah melalui para wali untuk menyebarkan agama Islam di daerah yang dikuasainya yaitu Kawasan Batanghari Sembilan pada abad ke XVI. Beliau mempunyai pengikut atau penghulu sebanyak 11 orang, yaitu:

1. Penghulu Gede

2. Datuk Buyung

3. Kuncung Emas

4. Panglima Bisu

5. Panglima Api

6. Syekh Ali Akbar

7. Syekh Maulana Malik Ibrahim

8. Syekh Idrus

9. Putri Kembang Dadar

10. Putri Rambut Selako

11. Bujang Juaro


Ratu Bagus Kuning hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah dan tidak pernah haid (tetap suci), selain itu kita dapat melihat monyet/kera jinak yang menurut cerita keturunan siluman kera yang pada waktu bertanding dengan Ratu Bagus Kuning mengalami kekalahan sehingga siluman kera bersumpah keturunannya akan menjadi pengikut setia Ratu Bagus Kuning. Hingga saat ini kera-kera tersebut ada dan jumlahnya tetap tidak kelihatan bertambah.

TAMAN BUKIT SIGUNTANG

(http://sjisumsel.files.wordpress.com/2010/06/bukit-siguntang-29j.jpg)


Daerah ini terletak di atas ketinggian 27 meter dari permukaan laut, tepat di Kelurahan Bukit Lama. Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan karena disini terdapat makam diantaranya:

1. Raja si Gentar Alam

2. Putri Kembang Dadar

3. Putri Rambut Selako

4. Panglima Bagus Kuning

5. Panglima Bagus Karang

6. Panglima Tuan Junjungan

7. Panglima Raja Batu Api

8. Panglima Jago Lawang

Berdasarkan hasil penemuan pada tahun 1920 di sekitar bukit ini telah ditemukan sebuah patung (arca) Budha bergaya seni Amarawati yang raut wajah Srilangka berasal dari abad XI Masehi yang sekarang diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Kita dapat melihat panorama Kota Palembang dari ketinggian Bukit Siguntang dengan menempuh kendaraan umum jurusan bukit besar.

TAMAN PUNTI KAYU





Hutan Wisata Punti Kayu ini dapat dijangkau dengan kendaraan umum trayek km 12 yang letaknya sekitar 7 km dari pusat kota dengan luas sekitar 50 ha. Sejak tahun 1938 telah ditetapkan sebagai hutan lindung.

Sejak tahun 1986 hasil kesepakatan antara Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Kehutanan, Hutan Wisata Punti Kayu menjadi Hutan Wisata dengan menambah beberapa sarana wisata.

Taman Wisata Punti Kayu dibagi atas 4 wilayah yaitu:

Wilayah Taman rekreasi yang mempunyai fasilitas:

1. Kolam renang

2. Tempat berteduh

3. Pos Keamanan dan Pos Informasi

4. Kebun Binatang

5. Sarana Olahraga

6. Ruang Serbaguna

Wilayah Hutan Lindung

Wilayah Perkemahan

Wilayah danau dan rawa


(http://www.jalanjalanyuk.com/wp-content/uploads/2010/12/punti-kayu-palembang.jpg)